Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

SERIBU RUPIAH SEHARI

Purnomo's picture

      Ada siswi baru di kelasnya. Dia duduk sebangku dengannya. Anaknya pendiam bahkan tepatnya pengantuk terlebih bila jam-jam pertama sehingga kadang ia harus menyikut rusuknya agar terbangun. Setiap jam istirahat dia tak ikut keluar kelas sehingga suatu ketika dia bertanya, "Mengapa kamu tidak pernah keluar kelas waktu jam istirahat?"


      "Buat apa?"
      "Ke kantin."
      "Aku tidak lapar. Lebih baik aku di kelas membuat pr-ku."
      Tetapi suatu ketika menjelang jam istirahat dia mendengar ada suara dengkur halus berasal dari perut temannya.
      "Kamu lapar?"
      "Sedikit."
      "Nanti kita sama-sama ke kantin. Mau?"
      "Gak."
      "Mengapa?"
      "Aku tidak bawa uang."

      Ketika lonceng tanda istirahat berbunyi dia menarik tangan temannya. Di kantin sekolah dia mengeluarkan uangnya. Empat ribu rupiah. "Ini uang sakuku," katanya. "Dua ribu buat aku, dua ribu buat kamu. Kamu pilih sendiri mau makan apa."
      Temannya menolak uang yang diangsurkannya.
      "Kalau kamu tidak makan kamu bisa masuk angin. Kalau kamu muntah di kelas, aku ikut repot, apalagi kalau bajuku kena muntahanmu."
      Temannya tertawa kecil. Dia mengembalikan seribu rupiah. "Aku mau terima, tetapi cukup seribu rupiah saja." Dan kemudian dengan uang itu dia membeli 2 potong kecil mendoan goreng.
      "Cukup segitu?" tanyanya.
      "Cukup untuk tidak masuk angin," jawab temannya.
      Sejak itu temannya mau menemaninya jajan di kantin. Tetapi ia tak pernah mau menerima pemberiannya lebih dari 1000 rupiah.

      Dia memandangi botol aqua 2 liter di kamarnya yang hampir penuh dengan uang logam. Akhir tahun pelajaran teman sebangkunya pindah sekolah karena ibunya menikah lagi dan keluarga baru ini pindah ke kota lain. Ia tak lagi bisa membagikan 1000 rupiah dari uang jajannya. Tetapi kenangan manisnya bersahabat dengan Lastri membuat ia selalu menyisihkan 1000 rupiah dan mengumpulkannya di botol aqua itu.

      Lastri tidak punya ayah. Ibunya bekerja di perusahaan konfeksi dengan gaji pas-pasan. Karena itu Lastri setiap sore membantu tetangganya berjualan makanan sampai malam hari agar bisa membayar uang sekolahnya. Di rumahnya tak pernah tersedia sarapan. Dia ke sekolah hanya berbekal sebotol air minum. Siang dia makan nasi dengan mi instan. Malamnya makan di tempat kerja. Cerita ini dia dengar sewaktu Lastri pamitan. Dia bercerita tanpa beban tanpa rasa sedih seolah-olah sedang menceritakan kisah sinetron di tivi. Di akhir cerita Lastri berkata, "Seumur hidup aku tak akan pernah melupakan pemberianmu setiap hari. Walau seribu rupiah, itu sangat berarti bagiku. Bukan jumlahnya, tetapi nilainya. Ketika aku menerima uangmu itu, aku tahu masih ada orang yang memperhatikan aku. Aku merasa tidak sendiri lagi. Itu membuat aku bersemangat. Aku tidak mau bersumpah, tetapi suatu ketika aku akan melakukan yang sama kepada orang lain."

      Dia menumpahkan seluruh isi botol aqua itu ke meja. Dia menghitung keping demi keping. Dia ingat ada temannya yang bercerita ada sebuah yayasan yang membantu siswa-siswa yang kurang mampu. Besok dia akan memberikan seluruh uang itu kepada temannya untuk diteruskan kepada yayasan itu. Semoga ada Lastri-Lastri lain di sekolah lain yang mau menerima uang seribu rupiah seharinya itu. Dan dia akan terus menyisihkan 1000 rupiah setiap hari agar makin banyak Lastri yang terbangun semangatnya.

                                         (31.12.2014)

** gambar diambil lewat google sekedar ilustrasi.